Laki-Laki Juga Manusia

Ruang aman untuk laki-laki adalah investasi penting untuk kesehatan mental masyarakat Indonesia. Pria juga manusia yang punya emosi, bisa mengalami depresi, dan butuh bantuan. Ketika kita menciptakan ruang aman, kita tidak hanya membantu pria, tapi juga mengubah budaya maskulinitas toxic yang merusak kesehatan mental jutaan pria Indonesia. Di tahun 2026, ketika kesadaran kesehatan mental semakin …

Emosi bukan kelemahan

Tabu tidak boleh menangis pada pria adalah fenomena toxic masculinity yang masih harus diperjelas hingga sekarang. Meskipun kesadaran kesehatan mental meningkat, stereotip bahwa “laki-laki harus kuat” masih menghancurkan kesehatan mental pria Indonesia. Data menunjukkan bahwa 33% pria pernah mengalami masalah kesehatan mental tetapi hanya 10% yang mencari bantuan. Menangis bukan kelemahan, tapi emosi alami manusia. …

Tabu Pelecehan Seksual pada Pria – Stigma Maskulinitas yang Membuat Korban Bungkam

Ketika membahas kekerasan seksual, masyarakat cenderung terpaku pada persepsi bahwa hanya perempuan yang menjadi korban. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa laki-laki juga mengalami pelecehan seksual dengan prevalensi mengkhawatirkan, meskipun kasus mereka jarang terlapor dan sering diabaikan.Berdasarkan data survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) yang melibatkan 62.224 responden, 1 dari 10 laki-laki pernah mengalami pelecehan …

Kota Besar, Kesepian, dan Solusi Maskulinitas Sehat

Kehidupan di kota besar sering membuat orang merasa sibuk tetapi kesepian. Hubungan dengan keluarga atau komunitas menjadi lebih renggang. Banyak laki-laki akhirnya tidak punya tempat aman untuk bercerita tentang masalah hidup mereka. Karena terbiasa diajarkan untuk “kuat” dan “mandiri”, sebagian pria memilih memendam stres sendirian. Padahal, emosi yang dipendam terus-menerus bisa berubah menjadi kemarahan, depresi, …

Media Sosial dan Kompetisi Maskulinitas

Media sosial ikut membentuk standar baru tentang seperti apa laki-laki “ideal”. Banyak konten menampilkan pria bertubuh atletis, kaya, percaya diri, dan tidak menunjukkan emosi. Akibatnya, banyak laki-laki merasa harus tampil sempurna di internet. Fenomena ini membuat pria sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka takut dianggap lemah jika menunjukkan kesedihan, kecemasan, atau kegagalan. Karena itu, …

Tekanan Menjadi “Laki-Laki Sukses” di Era Freelance

Di zaman sekarang, banyak laki-laki muda bekerja dalam sistem gig economy seperti driver online, freelance, atau pekerjaan kontrak pendek. Masalahnya, pekerjaan ini sering tidak stabil dan penghasilannya tidak menentu. Namun, masyarakat masih menuntut laki-laki untuk terlihat sukses dan mampu menjadi “penopang”. Akibatnya, banyak pria merasa harus selalu terlihat kuat dan berhasil, walaupun sebenarnya sedang kesulitan …