Tabu tidak boleh menangis pada pria adalah fenomena toxic masculinity yang masih harus diperjelas hingga sekarang. Meskipun kesadaran kesehatan mental meningkat, stereotip bahwa “laki-laki harus kuat” masih menghancurkan kesehatan mental pria Indonesia. Data menunjukkan bahwa 33% pria pernah mengalami masalah kesehatan mental tetapi hanya 10% yang mencari bantuan. Menangis bukan kelemahan, tapi emosi alami manusia. Pria yang berani mengakui emosi dan mencari bantuan justru lebih kuat daripada pria yang memendam emosi sampai merusak kesehatan mental mereka. Masyarakat Indonesia perlu mengubah paradigma dan menciptakan ruang aman bagi semua orang, tanpa memandang gender, untuk merasakan dan mengungkapkan emosi
menarik