MENJADI CUKUP

(Perjalanan Remaja Laki-Laki Mengenal Diri di Tengah Media Sosial dan Stres Akademik).

Ponsel itu kembali bergetar di tangan Arga. Notifikasi demi notifikasi muncul tanpa henti—teman-temannya mengunggah foto pencapaian, nilai sempurna, tubuh yang terlihat ideal, hingga kehidupan yang tampak begitu rapi. Arga menatap layar itu cukup lama, lalu menghela napas pelan.

“Kenapa semuanya terlihat lebih baik dariku?” gumamnya.

Di sekolah, Arga dikenal sebagai siswa yang “biasa saja.” Nilainya tidak buruk, tapi juga tidak pernah menonjol. Ia bukan atlet, bukan pula anak yang populer di media sosial. Di rumah, orang tuanya sering membandingkan dirinya dengan sepupunya yang selalu juara kelas.

Awalnya Arga tidak terlalu memikirkan hal itu. Tapi semakin sering ia melihat dunia melalui layar, semakin ia merasa tertinggal. Tubuhnya yang mulai berubah di masa remaja membuatnya tidak percaya diri. Ia mulai membandingkan dirinya dengan standar yang ia lihat setiap hari—tanpa sadar, perlahan ia merasa tidak cukup.

Hari-harinya dipenuhi tekanan. Tugas menumpuk, ujian semakin dekat, dan pikirannya semakin penuh. Ia mulai sulit tidur, mudah lelah, dan kehilangan semangat belajar. Bahkan hal-hal yang dulu ia sukai, seperti menggambar, kini terasa tidak penting lagi.

Suatu sore, saat duduk sendirian di perpustakaan sekolah, Arga menatap buku yang terbuka di depannya, tapi pikirannya jauh ke mana-mana. Seorang guru menghampirinya.

“Kamu terlihat lelah, Arga. Semua baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada yang benar-benar melihatnya, bukan hanya hasilnya.

“Capek, Bu…” jawabnya pelan.

Guru itu tersenyum hangat. “Kamu tahu, tidak semua hal harus kamu kejar sekaligus. Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar dan bertanya—apa yang sebenarnya kita butuhkan?”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga tidak membuka media sosial sebelum tidur. Ia mengambil buku gambar yang sudah lama ia tinggalkan. Dengan ragu, ia mulai menggoreskan pensilnya. Tidak sempurna, tidak luar biasa, tapi cukup membuatnya merasa tenang.

Hari-hari berikutnya tidak langsung berubah menjadi mudah. Tugas tetap ada, tekanan tetap terasa. Tapi Arga mulai mencoba hal kecil—membatasi waktu di media sosial, memberi waktu untuk dirinya sendiri, dan berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Ia mulai menyadari sesuatu: apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Tidak semuanya seindah yang tampak.

Perlahan, Arga belajar menerima dirinya—dengan segala kekurangan dan proses yang ia jalani. Ia mungkin bukan yang terbaik di kelas, bukan yang paling populer, tapi ia mulai memahami bahwa nilai dirinya tidak hanya ditentukan oleh itu semua.

Suatu hari, ia kembali membuka media sosial. Kali ini, ia tidak merasa kecil. Ia hanya melihat, lalu menutupnya kembali dengan tenang.

Arga tersenyum kecil.

Mungkin ia belum menjadi “sempurna.”
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa… cukup.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *